J-League

Sepakbola di negeri Jepang memiliki akar yang cukup kuat di masyarakat pinggiran kota. Sekitar awal tahun 1990-an, seorang pencipta J-League yang merupakan Liga Utama Jepang mengamati. Bahwa masyarakat yang memiliki antusias tinggi akan hadirnya kompetisi sepakbola berasal dari daerah pinggiran kota dan pedesaan. Dimana wilayah tersebut tidak didominasi dengan jenis olahraga bisbol. Pasalnya, olahraga bisbol lebih populer di masyarakat Jepang, daripada sepakbola.

J-League

J-League menjalin hubungan dengan para komunitas demi meningkatkan kepopuleran sepakbola

Bahkan hingga saat ini, hubungan klub dengan para komunitas sepakbola menjadi kunci keberhasilan bagi klub Jepang. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendekati akar rumput. Dimulai dari menciptakan program sepakbola untuk kategori anak-anak yang masih menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar. Program tersebut ditawarkan dengan harga yang berbeda-beda di sejumlah lokasi.

Sasaran klinik tersebut bertujuan untuk membawa anak-anak menyukai dunia olahraga dan menjadi awal dalam membangun ikatan dengan klub. Peran orang tua juga dilibatkan dalam program tersebut. Dan seringkali terdapat kegiatan yang dimana para orang tua dapat berpartisipasi secara aktif.

Klub juga sangat bergantung pada para relawan demi menciptakan suasana persahabatan di berbagai pertandingan J-League. Mulai dari program di luar stadion, membersihkan seluruh stadion setelah dipakai untuk bertanding, hingga penjualan tiket pertandingan. Para relawan melakukan hal tersebut sebagai dedikasi bahwa mereka ingin membuat para supporter bahagia ketika menyaksikan laga sepakbola.

Hubungan Klub J-League Melalui Sektor Pendidikan

Sebagai contoh, masyarakat yang ingin menuju Stadion Saitama 2002 yang merupakan salah satu stadion legendaris dan saat ini digunakan oleh tim Urawa Reds sebagai kandang mereka, masyarakat itu harus berjalan kaki dengan menempuh jarak sekitar 500 meter dari stasiun Urawa Mizono. Dan para relawan memenuhi sepanjang jalur tersebut dengan memasang lebih dari 50 spanduk berwarna merah yang menjadi identitas tim Urawa.

J-League

Sektor pendidikan menjadi salah satu cara J-League untuk meningkatkan kepopuleran sepakbola

Namun, pemasangan spanduk dan berbagai dekorasi tersebut dilakukan ketika ada pertandingan yang berlangsung di stadion tersebut. Setelah laga berakhir, para relawan kembali membersihkan spanduk tersebut.

Para pemain pun juga secara teratur terlibat dalam promosi tim yang secara keseluruhan untuk J-League dengan mengunjungi ke berbagai sekolah dasar. Hari Senin menjadi hari yang sering dikunjungi. Sehari setelah pertandingan berlangsung. Dua hingga tiga pemain akan ikut berpartisipasi dalam program sekolah, seperti terlibat dalam suasana kelas, makan siang, dan ketika pelajaran jasmani. Dan mereka juga menunjukkan kehebatannya dalam mengolah si kulit bundar.

Anak-anak tersebut juga akan mendapatkan tiket gratis untuk laga kandang yang didistribusikan pada hari terakhir. Hal itu bertujuan untuk membuat anak-anak yang tentu ketika menonton didampingi oleh orang tuanya masing-masing kelak menjadi pengunjung tetap ke stadion.

Tak Hanya Dari Segi Pendidikan, Tetapi Juga Dari Kegiatan Amal

Hal itu bukan satu-satunya cara yang dilakukan oleh klub J-League untuk membuat hubungan oleh masyarakat. Selain dari segi pendidikan, mereka juga membuat hubungan melalui berbagai kegiatan amal dan berkunjung ke rumah sakit. Pasca bencana alam tsunami yang menerpa masyarakat di kawasan Jepang Utara, sejumlah klub J-League beserta masyarakat mengadakan acara yang bertujuan untuk penggalangan dana bagi para korban.

J-League

J-League juga seringkali mengadakan kegiatan amal

Pihak J-League juga menunda liga selama hampir dua bulan lamanya. Kurun waktu tersebut, mereka secara rutin mengelar berbagai kegiatan amal. Bahkan para pemain juga terlibat secara langsung, dengan salah satunya mengumpulkan bantuan di sejumlah stasiun kereta api.